Yusup Ari Wibowo

Foto saya
Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Mining Software

Hasil penelusuran

Rabu, 13 Oktober 2021

Istilah Tambang

29 Macam Istilah Tambang

1. Bund Wall             : Tanggul Pengaman yang standar tingginya adalah ¾ x  tinggi ban terbesar yang melewati area tersebut.
2. Request Level (RL) : Ketinggian/level/elevasi yang diminta sesuai desain
3. Disposal             : Tempat pembuangan / penumpukan material tak ” berharga “ (OB, Sub Soil, Dll).
 4. Waste Dump         : Nama lain disposal.
 5.Waste/Overburden : Material-material yang tidak “berharga”, batuan penutup lapisan batubara
 6. Top Soil                 : Tanah pucuk yang mengandung “hara” ,bahan yang menyuburkan tanah.  
7. Sub Soil                 : Tanah di bawah lapisan Top Soil tetapi diatas OB.
8. Stripping Ratio (SR) : Perbandingan jumlah volume batuan (OB, waste) yang harus dibongkar untuk mendapatkan sejumlah (ton) bahan tambang (Coal).
                   SR = 1 : 6
9. End Wall                 : Dinding atau batas akhir dari penambangan. Biasanya terdapat diujung daerah penambangan (melintang strike).
10.Settling Pond         : Kolam Pengendapan.
11. Mud Pond         : Kolam Penampungan lumpur.
12. ROM (Stock Pile) : Run Off Mine, Raw Off Mine
13. Fleet                         : Sekumpulan Armada Produksi. Biasanya terdiri dari Excavator, Dump Truck dan alat pendukungnya : DZ, GD, dll.
14. Match Factor         : Angka yang menunjukkan hasil perbandingan antara produksi alat muat dengan alat angkut yang dilayani. Match = seimbang jika nilainya 1 (satu).
15. Idle                         : Waktu hilang karena sebab yang tidak dapat dikontrol manusia, seperti : Hujan, Kabut, dll.
16. Delay                 :Waktu hilang yang dapat dikontrol / dibatasi oleh tindakan manusia, seperti : Rest Time, Refueling, Move equipment, No Operator dll).
17. Slippery              : Wet condition, Waktu yang hilang setelah hujan sampai dengan kering dan dapat beroperasi  kembali.
18. Rain                         : Waktu selama hujan berlangsung.
19. BCM                         : Bank Cubic Meter : volume insitu (di tempat).
20. LCM                         : Loose Cubic Meter : volume terurai / gembur.
21. CCM                 : Compacting Cubic Meter : volume terpadatkan
22. Cross Fall                 : Kemiringan / arah air dialirkan
23. Open Pit                 : Area tambang terbuka
24. Joint Survey           : Pengukuran kemajuan tambang yang dilakukan setiap bulannya oleh Tim Survey Riung dan Tim Survey Customer sebagai dasar perhitungan Volume Overburden yang sudah dipindahkan dari Pit ke disposal. 

25. Grade                 : Kemiringan jalan (%), misalnya 4 %.
26. Countur                 : Garis yang menghubungkan titik-titik yang sama ketinggiannya.
27. Coal Expose         : Coal yang sudah terbuka / dibuang OB nya.
28. Coal Inventory      : Coal yang ada / masih ada dalam tambang dan siap diangkut keluar tambang (ke ROM).
29. Contamination     : Tercampurnya coal dengan material lain dari luar (OB, scorea, lumpur, air kotor dll).

Gambar 1. Istilah Tambang (2d) section a

Gambar 1. Istilah Tambang (2d) section b

Gambar 1. Istilah Tambang (2d) section c

Gambar 1. Istilah Tambang (2d) section d

Gambar 1. Istilah Tambang (3d) 


yaw 21












Genesa Bahan Galian & Macamnya

        Deposit mineral baik yang mengandung logam ataupun tidak, adalah hasil pengumpulan satu atau lebih unsur-unsur yang berguna. Pada umum nya unsur-unsur tersebut tersebar dalam konsentrasi yang kecil di kulit bumi. Dari lebih 104 unsur kimia yang dikenal manusia, hanyalah ada 8 unsur saja yang umum dijumpai dan terikat sebagai mineral di kulit bumi yaitu berturut turut 0, Si, AI, Fe, Ca, Na, K dan Mg seperti terdapat dalam Tabel I.

Clarke & Washington (Huang, 1964)

    Masing-masing unsur tersebut terdapat lebih dari 1% dan keseluruhannya mencapai lebih dari 99,5% dalam kulit bumi bagian atas. Lebih dari 92 unsur lainnya terdapat dalam sisa 0,5% di dalamnya termasuk unsur-unsur yang diperlukan manusia seperti Au, Ag, Cu, Zn Sn, Ni dan lain-lainnya. Jadi jelaslah bahwa pengumpulan unsur-unsur yang berguna ini memerlu kan proses geologi yang menghasilkan konsentrasi. Lebih dari 16.000 mineral yang dikenal orang, kira-kira hanyalah 50 mineral saja sebagai mineral pembentuk batuan dan kurang lebih hanyalah 200 mineral yang dapat digolongkan sebagai mineral yang mempunyai arti ekonomi.


1. BAHAN-BAHAN DEPOSIT LOGAM

        Logam-logam yang berguna biasanya terikat di dalam mineral bijih bersama-sama dengan unsur-unsur kimia lainnya. Mineral-mineral ini biasanya tersebar di dalam batuan dan terdiri dari mineral-mineral pembentuk batuan yang tidak atau sedikit sekali mengandung unsur logam. Mineral non logam tersebut biasanya dinamai "Gangue". Campuran mineral bijih dan mineral yan gue memben. tuk bijih Kebanyakan mineral bijih mempunyai kilap logam seperti galenit, cuprit, pirit, kalkopirit; sedang lainnya mempunyai kilap bukan logam seperti azurit sfalerit, malakhit, bauxit, cerrusit dan pada umumnya bergabung dengan logam logam lain atau unsur-unsur lain seperti S, As, C, Si, sehingga orang dapat meng ambil sebuah unsur logam yang dikehendaki dari beberapa macam mineral. Sebagai contoh tembaga terdapat dalam berbagai mineral seperti kalkopirit, kuprit, malakhit dan azurit. Sebaliknya dari sebuah mineral bijih orang dapat memisahkan lebih dari satu unsur logam yang berguna, sebagai contoh dari galenit dapat diambil timbal dan perak atau dari stannit dapat diambil timah dan tembaga. Tabel II menunjukkan berbagai mineral bijih yang umum dijumpai di alam. Mineral-mineral bijih dapat pula dikelompokkan dalam dua grup yaitu kelompok primer atau hipogen dan kelompok sekunder atau supergen. Mineral hipogen adalah mineral yang terbentuk bersama-sama mineral lainnya dan belum mengalami pelapukan. Dan mineral supergen diartikan sebagai mineral yang telah mengalami perubahan karena pelapukan atau proses lainnya.

(Bateman, 1960) Mineral2 bijih yang umum di jumpai

        Mineral-mineral gangue adalah bagian dari asosiasi yang membentuk batuan dan bukan sebagai mineral bijih di dalam suatu jebakan. Tabel III menunjukkan

(Bateman, 1960) Mineral2 gangue

    macam-macam mineral gangue yang umum dijumpai. Dalam artian sebagai penghasil logam yang diperlukan, mineral-mineral tersebut tidak berharga, tetapi untuk keperluan lain kadang-kadang mempunyai nilai sendiri. Sebagai contoh dapat digunakan untuk keperluan bahan urugan, bahan pengeras jalan, ataupun di urai untuk mendapatkan unsur yang bukan logam tetapi berharga tinggi. Bijih sebagai yang telah diuraikan di atas secara umum dapat dikatakan se bagai campuran mineral bijih dan mineral gangue yang dapat ditambang dan dapat menghasilkan keuntungan. Sebagai contoh pirit yang mengandung Au tidak dapat dikatakan sebagai bijih karena kadar emas sangat rendah dan biaya untuk menge luarkan emas tersebut dari pirit tidak seimbang dengan harganya. Walaupun umpama kadar emasnya tinggi tetapi biaya penambangan dan pemisahan emasnya tidak imbang dengan harga penjualan emasnya, mineral pirit tersebut belum dapat dikatakan sebagai bijih. rang Jadi dalam menentukan mineral itu bijih atau bukan tergantung pada bebe rapa faktor yaitu harga logam di pasaran, biaya penambangan, pengangkutan, tempat jebakan. Kemungkinan lain ialah yang berhubungan dengan kemajuan teknologi, sehingga apa yang kini dikatakan bukan bijih, mungkin saja dikemudian hari menjadi bijih dengan mengingat faktor-faktor tersebut di atas. Sebelum pe dunia ke dua, mineral spodumen tidak ada harganya, tetapi dengan kemajuan peroketan yang memerlukan bahan keramik tahan suku tinggi, spodumen menjadi bahan yang banyak dicari. Contoh lain ialah di kutub selatan dijumpai endapan mineral besi dalam jumlah yang banyak, tetapi jebakan mineral tersebut belum dianggap bijih, karena letak dan kesulitan penambangannya. Kumpulan mineral yang ditambang sebagai bijih tergantung pula pada mi neral gangue yang terdapat ataupun kandungan mineral lain walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit, karena mereka mempunyai kemungkinan untuk dapat dimanfaatkan. Contoh lain ialah bahwa bijih timbal, seng atau tembaga menjadi tidak bernilai karena mengandung bismut, arsen atau kadmium. Bi, As dan Cd walaupun dalam jumlah sedikit sangat menyulitkan prosedur pemisahan logam logam tersebut.


2. TENOR BIJIH - BIJIH 

        Yang dimaksud dengan tenor adalah kandungan logam di dalam bijih, dan biasanya dinyatakan dalam prosentase. Bagi logam-logam mulia dipakai ketentuan ounces per ton. Tenor tidak selalu harus sama, karena masih tergantung dari pada harga logam dan biaya pemisahannya, bijih-bijih yang berbeda-beda kandungan unsur logamnya dan ada juga bijih-bijih yang mengandung logam yang sama. Bijih yang ditambang kemudian akan dilebur, dan biaya menjadi mahal karena mineral gangue turut dilebur. Biaya lebur biasanya dinyatakan dalam ton bijih, sehingga untuk mengurangi biaya tersebut bijih sebelum dimasukkan dalam peleburan perlu diproses terlebih dahulu ("ore dressing processes ”) yang akan menghasilkan konsentrat bijih. Jadi dengan demikian bijih kasar umpamanya mempunyai berat semula 30 ton sesudah diproses menjadi 1 ton konsentrat. Jadi 1 ton konsentrat inilah yang dilebur dan bukannya 30 ton, sehingga sangat menurunkan biaya pe leburan. Sebagai gambaran mengenai tenor dan harganya terdapat dalam Tabel IV.

3. BAHAN-BAHAN DEPOSIT BUKAN LOGAM

        Yang termasuk di dalam endapan bahan galian bukan logam adalah bahan-bahan yang berbentuk padat, cair atau gas. Dalam hal ini biasanya tidak digunakan istilah bijih, tetapi nama mineralnya. Sebagai contoh adalah mika, asbes, gips atau minyak bumi. Istilah gangue masih dapat digunakan bagi mineral campuran lainnya yang tidak diperlukan. Beberapa ahli lebih menyukai pengguna an istilah 'Waste” dalam hal bijih. Berbeda dengan bahan-bahan deposit logam, deposit bukan logam lebih umum dan relatip lebih banyak dijumpai, sehingga harganyapun lebih murah bila dibandingkan dengan bahan-bahan logam terkecuali mineral permata. Walaupun termasuk dalam katagori bahan galian bukan logam dan harganya lebih murah; tetapi dalam penggunaan sehari-hari sangat luas, seperti bahan bakar, mika, barit, fluorit, grafit, belerang dan lain-lain. Proses peleburan tidak diguna kan, dan untuk mendapat konsentrat dipakai metoda sortasi tangan, pencucian, flotasi atau dengan menggunakan alat mekanik lainnya. Assosiasi mineral bukan logam biasanya tidak berupa kelompok seperti halnya pada mineral-mineral bijih dan sebagai contoh umum antara lain adalah minyak bumi dan gas, feldspat dengan mika, talk dengan steatit, garam dengan gips. 

(Bateman, 1960) Data mengenai logam2 dan bijhnya

4. PEMBENTUKAN MINERAL 

            Untuk dapat mendalami endapan mineral bahan galian perlu diketahui terlebih dahulu mengenai bagaimana cara terbentuknya. Pengendapan mineral dari larutan ataupun uap sangat tergantung pada suhu dan tekanan. Terutama suhu adalah lebih efektif bila dibandingkan dengan pengaruh perobahan tekanan. Proses pembentukan endapan bahan galian logam maupun bukan logama di alam melalui berbagai macam cara; antara lain sebagai berikut. 
            1. Akibat kristalisasi magma
            2. Sublimasi 
            3. Metasomatisme kontak 
            4. Hidrotermal

        4.1. Akibat Kristalisasi Magma 

            Magma dapat diartikan sebagai leburan silikat yang mengandung ber bagai macam unsur kimia,     baik unsur logam, semi logam, bukan logam ataupun unsur-unsur "volatil” (pembentuk gas). Magma     terdapat pada lingkungan suhu dan tekanan tinggi, dan diperkirakan terdapat pada kedalaman 40           kilimeier atau lebih di bawah permukaan bumi. Magma bersifat mobil dan salah satu mobilitas yang     lazim dikenal berupa intrusi yang menuju permukaan bumi dan masuk ke dalam retakan-retakan             batuan yang ada di kulit bumi. Dalam perjalanan ini, intrusi magma akan meng alami penurunan             suhu maupun tekanan, yang mengakibatkan terjadinya kristali sasi mineral-mineral silikat sesuai             dengan urutan deret Bowen. Akibat kristalisasi terbentuklah mineral-mineral silikat dan sisa cairan         magma. Secara skematik tergambar dalam gambar 2-3. Akhirnya unsur-unsur tersebut akan                     membentuk endapan mineral bahan galian hasil langsung dari magma. Dalam gambar Grout tersebut      tertera hubungan yang erat antara batuan yang terbentuk dengan endapan mineral. Lingkaran                 tingkaran penuh menunjukkan asosiasi utama, unsur-unsur yang menggantung dari dahan

ke bawah adalah hasil konsentrasi magma, dan yang jatuh ke bawah adalah hasil dari kegiatan pelapukan. 

        Pada umumnya magma dianggap merupakan sumber langsung pengendapan mineral hipogen. Melalui tahap kristalisasi dan diferensiasi sebelum akhir pem bekuan, unsur-unsur yang masih ketinggalan dalam sisa cairan magma tersebut akan membentuk kemudian oksida-oksida magmatik dan endapan-endapan sulfida. Sebelum akhir pembekuan cairan tersebut dapat terkumpul pada suatu tempat untuk menjadi pegmatit. Mendekati akhir pembekuan sisa cairan yang sudah tidak kental lagi dan sebagian besar mengandung air dan gas-gas serta logam-logam yang terlarut di dalamnya disebut cairan hidrotermal yang kemu dian akan mengendapkan mineral-mineral hidrotermal. 

    Endapan galian yang terbentuk bersama-sama dengan batuan di sekeliling disebut sebagai endapan bahan galian singenetik dan endapan yang terbentuk sesudah terjadinya batuan disebut sebagai epigenetik.

    Pada Tabel V terdapat penggolongan endapan mineral yang berasal dari kegiatan magma serta proses-proses yang terjadi. Pada tahap permulaan pengkristalan magma yang dapat menghasilkan endapan mineral bahan galian terdapat tiga tipe yaitu disseminasi, pemisahan dan injeksi. Disseminasi diartikan di sini sebagai penghamburan mineral di dalam batuan beku yang mengkristal pada tempat dalam, dan bila mineral yang ter. hambur tadi bernilai maka sebagai satu kesatuan batuan dapat dianggap sebagai endapan mineral bahan galian. Sebagai contoh mineral intan di dalam batuan kimberlit di Afrika Selatan yang sebenarnya adalah kristal sulung atau fenokri di dalam batuan tersebut. Pemisahan atau segregasi adalah istilah yang dipakai pada endapan mineral bahan galian yang mengkristal terlebih dahulu pada saat magma mulai mengkristal dan kemudian terpisah dari magma tersebut karena sifat fisik yang ber. beda, umpama berat jenis lebih besar sehingga akan mengendap terlebih dahulu. Contoh pada endapan bahan galian khromit di Bushveld, Afrika Selatan, terdapat profil gambar 2-4.

        Kemungkinan lain ialah sesudah terjadinya pemisahan kemudian diikuti dengan injeksi sehingga pengumpulan mineral bahan galian berpindah ke tempat lain dan bukannya di tempat mereka semuaterbentuk. Pada tahap akhir pembekuan magma yang tertinggal adalah cairan magna sisa. Proses-proses yang terjadi ada dua kemungkinan besar yaitu pemisahan terjadi selagi proses pembekuan berjalan atau terjadinya pemisahan itu sebagai akibat secara langsung dua atau lebih cairan yang tidak dapat bersatu, seperti minyak dan air; keadaan seperti ini disebut immisibilitas cairan. Terjadinya kristal sebagai akibat proses pemisahan karena cairan menjadi immisibel, kemungkinan selanjutnya apakah mineral bahan galian yang terbentuk itu akan terkumpul pada tempat yang sama ataukah berpindah ke tempat lain akibat injeksi.

Beberapa contoh hasil mineral bahan galian yang dihasilkan oleh pembekuan magma terdapat pada Tabel VI sebagai berikut.



4.2. Sublimasi

Merupakan proses pengendapan langsung dari uap atau gas. Pembentukan mineral bahan galian ini merupakan proses yang kecil bila dibandingkan dengan proses-proses lainnya. Letak prinsip proses tersebut pada penurunan suhu maupun tekanan. Terjadinya endapan ini disebabkan karena bereaksinya dua atau lebih gas-gas.

Sebagai contoh sehari-hari adalah hasil kegiatan gunung berapi, yaitu belerang yang terdapat di sekitar kawah atau di fumarola.

4.3. Metasomatisme Kontak

Intrusi magma yang telah menjadi padat mempunyai sisa magma berupa cairan maupun gas-gas yang bersuhu tinggi, dan bila bersentuhan dengan dinding celah-celah batuan lainnya dapat mengadakan reaksi yang menghasilkan mineral-mineral baru.

Di sini terletak perbedaannya dengan metamorfosa sentuh, di mana hanya suhu yang mempunyai peranan yang kebanyakan hanya akan mengakibatkan pengaruh pemanggangan saja ("backing effect'); sedang pada metasomatisme sentuh di samping suhu, terdapat penambahan tekanan pada sisa cairan magma yang dapat mengadakan reaksi dan menghasilkan mineral baru.

Metasomatisme sentuh yang banyak menghasilkan endapan mineral bahan galian sebagai contoh terdapat pada gambar 2-5 yang menunjukkan adanya hubungan antara endapan metasomatik (hitam) dengan intrusi monzonit yang menembus satuan batu gamping. 

Macam deposit metasomatik kontak terdapat pada Tabel VII. Letak tubuh bahan galian jenis ini biasanya berdekatan dengan kontak intrusi; bentuknya tidak teratur dan setempat setempat, berukuran antara 30 hingga 100 meter dengan cadangan yang tidak banyak beberapa ribu ton pada umumnya dan hanya sangat sedikit yang mempunyai cadangan sampai jutaan ton. Asosiasi mineral khas adalah mineral gangue suhu tinggi seperti andradit, hedembergit, tremolit, aktinolit, grossularit, wollastonit, eidot, vesuvianit, diopsid, forsterit, anorthit, albit, fluorit, khlorit, mika-mika. Biasanya mengandung kwarsa dan karbonat-karbonat; biji yang terdapat terdiri dari oksida-oksida, unsur-unsur logam, sulfida-sulfida, arsenida-arsenida. Oksida yang terbanyak dijumpai adalah magnetit, kemudian hematit jenis specularit, korundum. Grafit, emas dan platina sebagai unsur yang dijumpai, hanya emas dan platina yang jarang dijumpai. 

4.4 Proses Hidrotermal

        Proses Hidrotermal Hasil akhir dari proses pembekuan magma yang mengadakan intrusi adalah cairan sisa magma yang mungkin juga mengandung konsentrasi logam logam yang terdapat di dalam magma dan tidak ikut di dalam proses pengkristalan sebelumnya, Cairan ini disebut cairan hidrotermal yang membawa logam-logam ke tempat pengendapan yang baru; dianggap sebagai asal dari endapan-endapan epigenetik. Tetapi Park (1964) menganggap bahwa cairan hidrotermal tidak perlu harus berasal dari magma dan menurut beliau istilah hidrotermal bukan berarti genetik. Semua cairan yang terutama terdiri dari air panas yang terbentuk di alam dimasukkan ke dalam cairan hidrotermal. Kemudian istilah ini diperluas lagi dan dibagi-bagi menjadi hipotermal bagi cairan yang berada di tempat yang dalam dengan tinggi suhu berkisar antara 300º C hingga 500° C; mesotermal bagi yang terdapat di tempat yang tidak begitu dalam dengan suhu lebih rendah berkisar antara 150–300°C; dan epitermal bagi yang terdapat pada tempat yang dangkal dengan suhu rendah berkisar antara 50-150° C. Bila cairan berubah menjadi gas, termasuk pneumatolitik. Sebagian besar mineral dan logam-logam yang berguna itu berasal dari en dapan-endapan hidrotermal; sebagai contoh sebagian besar dari bijih emas dan perak, tembaga, timbal dan seng, air raksa, antimon dan molibden, dan logam logam serta mineral-mineral lainnya. Daerah tambang besar di dunia menambang dari hasil endapan hidrotermal lebih banyak, bila dibandingkan dengan endapan yang berasal dari proses lainnya. Beberapa faktor yang diperlukan bagi terbentuknya endapan hidrotermal adalah : 1. Cairan bermineral yang mampu melarutkan dan mengangkut hasil larutan mineral, 2. Celah-celah di dalam batuan yang dapat dilalui cairan ter sebut, 3. Tempat-tempat yang menguntungkan bagi terjadinya pengen dapan mineral, 4. Reaksi kimia yang mampu mengendapkan mineral, 5. Cukup terkumpulnya endapan mineral hingga memungkinkan penambangan. Terutama mengenai reaksi kimia yang diperlukan antara lain pH cairan, mu dah dan tidaknya bereaksi dengan dinding celah-celah yang dilalui oleh cairan serta macam-macam ion-ion yang terlarut di dalamnya. Pada umumnya dinding celah yang mudah bereaksi terdiri dari batugamping. Kemudian faktor suhu dan tekanan juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap jenis pengendapan yang akan terjadi. Telah lama diketahui bahwa endapan hidrotermal pada umumnya berkaitan dengan alterasi dinding celah-celah. Alterasi ini disebut al terasi-dinding-batuan Ilmu Bahan Galian ("wall-rock alteration'). Yang dimaksud dengan alterasi adalah perubahan su sunan baik mineral maupun kimiawi daripada batuan sebagai akibat pengaruh cairan hidrotermal. Perubahan yang terjadi dapat berupa re-kristalisasi, penam bahan mineral baru; larutnya mineral yang telah ada, penyusunan kembali kom. ponen kimiawinya, atau perubahan sifat fisik seperti permeabilitas, porositas batuan. Beberapa contoh mengenai alterasi batuan sehubungan dengan kondisi tipe hidrotermal dan hasil alterasinya terdapat dalam Tabel VIII sebagai berikut:


        Alterasi yang terdapat di sekitar pegmatit menghasilkan mineral-mineral antara lain beril, monazit, titanit, tanlatit-columbit, lepidolit (mika Litium), topaz, zirkon, fluorit, allunit dan lain-lainnya. Hasil alterasi-dinding yang berhubungan dengan tubuh intrusi di banyak tempat mengandung mineral-mineral khas seperti : Grossularit, andradit, wollasto nit, epidot, hedenbergit, diopsid, tremolit dan aktinolit. Pembentukan deposit mineral terutama jenis deposit hidrotermal, mineral mineralnya terbentuk secara berurutan, Susunan urutan tersebut disebut parage 20 Ganesa Bahan Galian nesa. Mineral-mineral "gangue” diendapkan terlebih dahulu, kemudian diikuti oksida dan yang paling akhir mengkristal mineral sulfida. oleh mineralParagenesa mineral dengan jelas diperlihatkan pada deposit yang mengisi celah; yang dikenal dengan pengkera kan, dimana mineral-mineral yang terbentuk kemudian akan diendapkan di atas mineral yang terbentuk terdahulu sehingga berupa lapisan-lapisan (Gambar 2-6).
     
Dalam satu urutan pengkristalan terdapat sampai sepuluh macam mineral. Pada umumnya urutan mineralisasi ialah kwarsa yang kemudian diikuti oleh sulfida besi atau arsenida, sfalerit, energit, kalko pirit, bornit, galenit, emas, dan mineral-mineral perak yang komplek. Pengke rakan dapat simetrik ataupun assimetrik. Di alam deposit hidrotermal dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu deposit yang mengisi celah-celah dan deposit penggantian metasomatik.


           4.4.1. Deposit pengisian celah-celah Cairan hidrotermal 
        akan mulai mengendapkan mineral-mineral bila telah mencapai tempat yang menguntungkan,     dalam hal ini adalah celah-celah atau rongga-rongga retakan yang terdapat di dalam batuan. Faktor-faktor lainnya yang sangat mempengaruhi pengendapan ini adalah adanya perubahan susunan kimia cairan, suhu dan tekanan. Mineral pertama yang diendapkan langsung melekat pada dinding celah (Gambar 2-6) dan merupakan lapisan pertama. Kemudian secara berturut-turut diendapkan mineral-mineral lain di atasnya. Celah-celah dapat berasal dari retakan-retakan dalam batuan; akibat tek tonik yang mengakibatkan breksiasi , zona rekangan, kekar-kekar, dan lainnya. Gambar 2-7 memberikan gambaran mengenai berbagai macam celak yang di jumpai. 9 4.4.2. Deposit penggantian metasomatik Penggantian metasomatik atau disingkat penggantian (”replacement') merupakan proses pengendapan mineral bahan galian yang paling utama yang bersifat epigenetik. Di samping itu juga merupakan proses yang dominan di dalam pengendapan mineral hipotermal dan mesotermal, pada pengendapan mineral bahan galian epitermal mempunyai arti yang penting. Mineral-mineral bijih yang merupakan deposit metasomatik-kontak hampir keseluruhan yang dijumpai ter bentuk oleh proses ini. Penggantian sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses pembentukan mineral baru, dengan cara mengganti tempat mineral lain karena larutan kapiler yang menerus. Sebagai contoh sebatang kayu yang kemudian seluruhnya diganti oleh silika dengan sedikit merubah struktur kayu semula, dan dikenal dengan proses petrifikasi. Silika dalam hal ini adalah mineral yang menggantikan kayu atau disebut metasoma. Penggantian dapat terjadi setempat ataupun meluas, dan cara perluasannya ada tiga kemungkinan, yaitu (Gambar 2-8) : Cara pertama, cairan yang melalui suatu retakan itu mula-mula mengganti dinding celah di sekelilingnya dan kemu dian meluas keluar tanpa tanggung-tanggung mengganti seluruh batuan. Cara kedua, seperti cara pertama tetapi penggantian di bagian luar tidak merata dan terhambur. Cara ketiga, yang merupakan pertumbuhan inti-ganda. 
Contoh-contoh pada gambar 2-9 menunjukkan berbagai keadaan peng gantian yang berhubungan dengan batuan sedimen dan batuan beku. Tabel IX menunjukkan contoh bijih, tipe dan tempat diketemukannya. Kriteria penggantian menurut Irving (Bateman, 1960) antara lain adalah sebagai berikut. Terdapatnya bagian dari batuan yang tidak mengalami penggantian dan terjebak di dalam tubuh endapan bijih (Gambar 2-9. A). Struktur endapan penggantian masih memiliki struktur batuan yang asli sebelum mengalami perubahan. (Gambar 2-9. B) Terdapatnya kristal-kristal mineral yang sempurna dan memotong struktur batuan asli (Gambar 2-9. E). Dijumpainya mineral-mineral pseudomorf, umpama kalkosit yang mempunyai perawakan dan wajah kristal pirit berbentuk heksaeder dengan bidang-bidang kristal ber-striasi. 



4.5 Sedimentasi

        Proses sedimentasi perlu dibedakan dengan proses penguapan karena adanya berbedaan mekanismenya. 
        Pada proses sedimentasi, pengendapan mineral ini terjadi akibat proses kimia, organik dan fisik. Sedangkan pada proses penguapan atau proses evaporasi, endapan terjadi karena zat-zat yang terlarut dalam air akan tertinggal sebagai bahan padat, akibat teruapnya air. 
        Kedua proses tersebut menghasilkan endapan mineral yang penting. Endapan bahan galian akibat proses sedimentasi yang penting antara lain adalah endapan besi, mangan, tembaga, uranium-vanadium, fosfat, belerang, karbonat-karbonat, lempung, serpih minyak, bentonit, diatomit, batubara dan lainnya.
        Untuk mendapatkan endapan sedimen diperlukan beberapa persaratan se bagai berikut : 
        1. Cukup tersedia sumber sedimen
        2. Pengumpulan material-material proses pelarutan ataupun lainnya
        3. Cara pengangkutan material-material dari sumbernya ke tem pat pengumpulan bila diperlukan             4. Cara pengendapan material-material tersebut pada cekungan pengendapan. 

        Batuan beku pada umumnya merupakan sumber endapan mineral bahan galian setelah melalui proses pelapukan kimia maupun fisika. Batuan sedimen dan metamorfosa dalam keadaan tertentu juga dapat merupakan sumber asal material. 
        Proses pelarutan oleh air merupakan salah satu hasil kegiatan proses pela pukan kimia yang sangat berperanan dalam pengangkutan besi,mangan,tembaga, fosfat, karbonat-karbonat dan beberapa logam lainnya. Air akan lebih aktip  melarutkan sesuatu bila mengandung asam karbonat asam organik dan asam hu. atau asam sulfat. Air hujan yang banyak mengandung asam karbonat H2 C 03, sangat efektif melarutkan besi, mangan, fosfor dan alkali tanah. Asam organik dan asam humus mempunyai pengaruh yang sama. Asam-asam tersebut banyak dihasilkan oleh proses pembusukan bahan organik. Air yang mengandung asam sulfat banyak dijumpai di daerah yang banyak mengandung mineral pirit; mempunyai sifat larutkan yang kuat pula.
        Kecuali batubara, bahan pembentuk endapan bahan galian diangkut dari dan air bawah permukaan tanah.sumbernya oleh air permukaan Pengendapan akan terjadi bila lingkungan berubah; umpamanya keadaan cairan mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia atau bila terjadi perubahan suhu dan tekanan. 
        Proses kimia seperti oksidasi, reduksi, hidrolisa, mempunyai peranan penting di sini. Di samping itu dalam keadaan tertentu proses biokimia; yaitu proses karena kegiatan bakteri atau ganggang, sangat berperanan juga dalam pengendapan besi, mangan, belerang.
        Jadi kondisi dimana pengendapan itu terjadi akan menentukan komposisi mineral yang akan diendapkan; demikian pula kemurniannya, penyebarannya, maupun dimensi tubuh endapan serta stratigrafinya. Cara pengendapan ini tergantung dari pada sifat cairan pelarutnya dan tempat pengendapannya; apakah di rawa-rawa, di daratan, di danau, ataukah di lautan.
        Endapan besi dan mangan dapat terjadi baik di dalam air tawar, di lautan, di rawa-rawa, maupun di laguna. Sedang fosfat-fosſat dan belerang hanya di endapkan dalam lingkungan lautan.

        4.5.1. Endapan besi sedimenter

            Besi yang terkandung di dalam mineral-mineral kelam akan larut selama pelapukan kimia berjalan dan tersangkut bersama air sungai maupun meresap bersama air ke dalam tanah. Di dalam perjalanan besi yang larut tadi dapat diendapkan bila melalui daerah gamping, daerah yang kaya bahan organik, atau bila kandungan CO2 di dalam larutan menjadi berkurang atau bila larutan tersebut mencapai cekungan dan kemudian mengalami penguapan.

        Dari sekian kemungkinan terjadinya endapan besi yang bersifat ekstensip, ialah bila larutan mencapai laut. Hasil pengendapan biasanya bersifat lebih murni, bila dibandingkan dengan hasil proses pengendapan yang disebabkan oleh ke. mungkinan kedua atau ke tiga.

        Pengendapan yang terjadi di lautan dapat dibedakan menjadi dua lingkungan pengendapan, yaitu lingkungan pengendapan laut terbuka dan lingkungan pengendapan laut dangkal.

        Pengendapan pada lingkungan laut terbuka menghasilkan mineral-mineral besi seperti : glaukonit, greenalit, chamosit, atau thuringit. Jenis endapan laut yang dikenal dengan nama pasir hijau ("greensand”) adalah pasir, yang bercampur dengan glaukonit, lempung dan fragmen kerang; yang pada mulanya diendapkan sebagai lumpur laut dalam.

        Greenalit adalah silikat besi yang dihasilkan oleh reaksi antara silikat alkali dengan garam-garam ferro. Bijih besi Superior Amerika Utara, termasuk dalam jenis ini.

        Chamosit adalah lempung besi yang merupakan senyawa hidroksida silikat yang mengandung besi, magnesium dan alumina; dan umumnya oolitik. Endapan mineral ini merupakan bijih besi di Newfoundland, Inggeris dan Eropa. Thuringit termasuk kelompok mineral khlorit dan umumnya bersifat masif. Ditambang sebagai bijih besi di Thuringia.

        Pengendapan pada lingkungan lautan dangkal akan menghasilkan mineralmineral oksida besi, berstruktur oolitik dan sedikit bercampur dengan fragmen kerang dan lumpur. Endapan jenis ini merupakan deposit besi terbesar di dunia, seperti di basin Wabana, New Foundland.

Macam endapan besi sedimenter, siſat dan tempat diketemukan terdapat Tabel X sebagai berikut :


4.5.2 Endapan mangan

        Proses pengendapan mangan menyerupai proses pengendapan besi Kedua logam Mn dan Fe berasal dari sumber mineral yang sarna seperti piroksen amfibol , olivin, Pengendapan dari larutan menghasilkan mineral-mineral : Manga nit (Mn0);1120), hausmannit (Mn30a), pirolusit (MnO2), braunit (Vin, si, 20g, psilomelan (Baling )16 (011)a, "wad” suatu oksida Mn bercampur dengan Ba dan unsur-unsur lainnya. Endapan bijih terbesar terdapat di Rusia antara lain di Chia-aturi, Georgia dan Nikopol. Di pulau Jawa terdapat di daerah Nanggulan, Wates, Yogyakarta dan di Karangnunggal, Tasikmalaya.

4.5.3. Endapan tembaga
        Pengendapan bijih tembaga sedimenter hingga sekarang masih belum ada kata sepakat. Contoh khas terdapat di "Kupfershjefer, Mansfeld, German. Serpih tembaga diendapkan dalam cekungan seluas 22.500 mil2 di atas kondomerat alas. Tebal serpih tersebut rata-rata 1 m. Mineral tembaga yang terdapat adalah sulfida-sulfida tembaga, dengan campuran besi, timbal, dan seng. Di samping itu mengandung juga unsur-unsur perak, nikel, kobalt, vanadium dan molibdenium. 7

4.5.4. Endapan uranium-vanadium
        Menurut Hess pengendapan bijih U-V terjadi pada lingkungan pengendapan laut dangkal berpantai dengan gosong-gosong yang berpindah-pindah. Kedua unsur tersebut larut sebagai sulfat dan memasuki cekungan yang kaya vegetasi. Pavia mulanya pokok batang kayu yang mati mengalami proses penggantian oleh karbonat-karbonat dan baru kemudian karbonat tersebut diganti oleh uranium dan vanadium dalam bentuk oksida.
        Sebagai contoh yang dijumpai di daerah Plato Colorado adalah diketemukannya sebuah batang kayu panjang 30 m yang menghasilkan bijih seberat 105 ton uranium bernilai $ 27.300, radium $ 175.000 dan vanadium $. 28.200. Dua batang kayu lainnya yang kemudian dijumpai mempunyai nilai $ 350.000,(US. 1.00 = Rp 625,-) atau sama dengan Rp 218.750,000,- Hingga kini belum lagi ditemukan batang kayu yang semahal itu.
        Fisher (Bateman, 1960) berpendapat bahwa pengendapan kedua unsur tersebut kemungkinan dapat juga karena larutan tanah.

4.5.5. Endapan fosfor

        Pengendapan fosfor terutama terjadi dalam lingkungan laut dan mineral yang dihasilkan adalah fosforit dan merupakan senyawa hidrat fosfat me ngandung besi, mangan dan seng. Mansfield (Bateman, 1960) menganggap bahwa ada dua hal yang penting pada proses pengendapan fosfor, yaitu : pertama keadaan geografi dan kedua adanya penyebab yang dapat merubah asam fosfor menjadi tidak larut. Salah satu penyebab itu ialah cukup tersedianya unsur fluor. Endapan fosfat yang luas di dunia terdapat di Afrika Utara seperti di negaranegara Algeria, Tunisia dan Maroko. Endapan lainnya dijumpai di Idaho, Utah, Montana dan Wyoming, USA.

4.5.6. Endapan belerang

        Endapan belerang sedimenter berasal dari senyawa sulfat, dan sulfida hidrogen berasal dari Sulfatara, ataupun dari hasil pembusukan dalam lingkungan anaerobik. Belerang terangkut dalam bentuk kolloid atau larutan sulfat. Mikroorganisme mempunyai peranan yang besar di dalam pengendapan belerang. Bakteria belerang yang hidup dalam lingkungan anaerobik itu berarti hidup tanpa adanya oksigen. Mereka sanggup mereduksi sulfat ataupun sulfida menjadi belerang dalam lautan tertutup, laguna ataupun rawa-rawa berair payau.
        Contoh penting yang dijumpai di dunia adalah di Chekur, Knibyshev, dan Sukeievo, Rusia. Endapan terdapat dalam lito yang menunjukkan adanya lingkungan laguna. Litologi yang dijumpai terdiri dari lempung, batugips dan batugamping bituminan. Mineral yang terdapat adalah kalsit, gips, selestit.
        Contoh endapan yang berasal dari kegiatan proses biokimia terdapat di Sicilia, yaitu pada suatu daerah bekas cekungan yang berukuran 7 km panjang dan lebar hampir 1 km. Asosiasi batuan terdiri dari napal lempung, batugamping, dan batu pasir.

4.5.7. Endapan karbonat

        karbonat Yang mempunyai arti penting sebagai bahan galian adalah karbonatkarbonat Ca dan Mg. Unsur-unsur Ca dan Mg larut dalam bentuk bi-karbonat dan kemudian terangkut oleh air selama keadaan fisik dan kimia larutan tetap konstan. Perubahan tekanan maupun suhu sudah cukup untuk dapat menguraikan larutan bi-karbonat menjadi karbonat dan air. Termasuk dalam bahan galian adalah batu-gamping, dolomit dan magnesit.
        Batugamping dapat diendapkan oleh proses-proses mekanik, anorganik maupun organik baik di dalam lingkungan air tawar ataupun air laut. Sebagian besar batugamping diendapkan dalam air laut dangkal hingga sedang kedalamnya; dan bebas dari endapan-endapan daratan, "Chalk” adalah batugamping putih, rapuh seperti tanah; diendapkan oleh proses kimia di perairan dangkal dan mengandung fragmen-fragmen foraminifera dan organisma lainnya.
        Dolomit, CaCO3. MgCO3, adalah batugamping yang mengandung kurang lebih 45% MgCO3. Sebagian besar dolomit bukan merupakan hasil pengendapan, tetapi dari hasil proses penggantian batugamping secara epigenetik. Dolomit sedimenter biasanya dianggap sebagai proses penggantian lumpur gampingan yang terdapat di dasar laut.
        Magnesit, MgCO3, diendapkan oleh air danau garam yang jenuh dan berasosiasi dengan garam dan gips, atau serpih dan batugamping. Pada mulanya kon: sentrasi melalui proses kimia dan kemudian diikuti oleh dehidrasi. Diduga bahwa Mg larut dalam bentuk sulfat dan terbawa baik oleh air permukaan maupun dibawah permukaan. Larutan ini bereaksi dengan karbonat natrium untuk kemudian membentuk endapan hidromagnesit. 
        Contoh di Kern County, California Nevada; Idaho; USA. Demikian pula di Jerman dan British Columbia.

4.5.8. Endapan lempung

        Berlainan dengan endapan-endapan bahan galian yang telah disebut di atas; lempung adalah hasil pelapukan batuan yang diangkut dalam bentuk kolloid. Pengendapannya secara proses mekanik dan kimia dan kegiatan biologi tidak mengambil peranan di sini. Pengendapan lempung terjadi di dasar laut, estuari, danau, rawa-rawa dan sungai yang airnya tenang atau di lembah banjir. Lempung yang diendapkan khusus di rawa-rawa dapat mempunyai arti ekonomi yaitu sebagai lempung bakar; biasanya terdapat di bawah lapisan batubara sebagai lapisan tipis atau berbentuk lensa dan sedikit mengandung kotoran.

4.6. Penguapan Atau Evaporasi

        Penguapan merupakan proses yang penting, karena menghasilkan banyak endapan-cndapan mineral bukan logam. Proses ini hanya efektif di daerah yang beriklim kering dan panas. Pada umumnya berlaku ketentuan, bahwa garamgaram yang daya larutnya terkecil akan diendapkan terlebih dahulu dan yang terakhir diendapkan adalah jenis garam yang paling mudah larut.

        Endapan evaporat berasal baik dari perairan danau maupun tidak terbuka. Kandungan unsur-unsur kimia di dalam air laut terdapat dalam Tabel XI. lautan yang terakhir diendapkan adalah jenis garam yang paling mudah larut. Endapan evaporat berasal baik dari perairan danau maupun ti dak terbuka. Kandungan unsur-unsur kimia di dalam air laut terdapat dalam Tabel XI.

        Unsur-unsur lain yang terdapat adalah : emas, perak, logam dasar, mangan, alumina, nikel, kobalt, radium, fluor, fosfor, jodium, arsen, litium, rubidium, caesium, barium dan strontium. Kecuali fosfor, besi dan jodium, lain-lain dalam bentuk endapan yang berarti belum pernah diketemukan.

        Kondisi untuk terjadinya pengendapan adalah terisolirnya lautan di sekitar pantai yang bebas dari laut terbuka dengan melalui proses penguapan yang melampaui jumlah penambahan air laut baru.

        Pengendapan yang terbentuk karena proses evaporasi dapat dipisahkan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok pertama yang diendapkan dari air laut, kelompok kedua diendapkan dari danau, dan kelompok ketiga diendapkan dari air tanah.

        4.6.1. Pengendapan dari air laut

        Kandungan rata-rata air laut terdapat dalam Tabel Xl. Dari proses evaporasi bila tidak ada gangguan, berlurut-turut akan diendapkan terlebih dahulu Oksida besi Fe2O3 dan CaCO3 dengan ketentuan bahwa air laut teruapkan sekitar 50%. Bila penguapan berjalan terus hingga air laut menjadi 20% volume semula, mulai akan diendapkan mineral gips CaSO4. 20120. Penyusulan lebih lanjut sampai 10% volume air laut semula, halit NaCl mulai diendapkan dan kemudian diikuti oleh kieserit MgSO4. H2O dan bischofit MgCl2.6H20). Penguapan lebih lanjut menghasilkan garam pahit dan NaBr.
        Pengendapan gips CaS04.2H20 dan anhidrit CaSO4 merupakan hasil proses kristalisasi tahap kedua sesudah pengendapan oksida besi dan karbonat kalsium. Gips akan diendapkan terlebih dahulu dan baru kemudian anhidrit. Perbandingan antara kedua mineral tersebut tergantung dari pada suhu penguapan. Pengendapan anhidrit masih terus berlangsung sampai terjadinya pengendapan halit dan bila halit sudah mulai terbentuk gips sudah tidak terbentuk lagi dan tempatnya diganti oleh anhidrit.

        Contoh pengendapan gips terdapat di Nova Scotia dengan ketebalan sekitar 80 m, di Jerman mencapai 100 m, dan di New Mexico mencapai lebih dari 440 m. Pengendapan halit NaCl, merupakan hasil pengendapan air laut yang paling banyak dijumpai. Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar bahan yang terlarut di dalam air laut adalah unsur-unsur yang membentuk halit (Tabel XI). Dalam bentuk endapan yang merupakan lapisan jarang mencapai ketebalan yang berarti; tetapi dalam bentuk doma garam seperti yang terdapat di sekitar Gulf Coast, USA; Jerman; Rumania; Iran; dapat mencapai ketebalan yang luar biasa. Seperti di Gulf Coast, belum pernah ada mata bor yang mencapai dasar doma garam tersebut walaupun pemboran telah mencapai 1800 m dalamnya. Doma-doma garam yang terdapat di Gulf Coast tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan dunia akan garam selama 4.000 tahun.

        Endapan garam kalium mulai terbentuk sesudah halit dan sebagian besar telah diendapkan dari proses penguapan air laut. Garam-garam kalium terbentuk sebagai khlorida dan sulfat dan kadang-kadang bercampur dengan magnesium, Di alam jarang dijumpai pengendapan kalium, karena untuk pengendapannya diperlukan penguapan yang tuntas; sedang di alam rupanya proses penguapan seperti itu tidak pernah terjadi. Mineral-mineral kalium yang penting-penting adalah silvit KCl mengandung K20 63,2%, langbeinit K2SO4 2MgSO4 mengandung K20 22,7%, kainit MgSO4. KCI. 3H20 mengandung K20 18,9%, glaserit 3K2 S04. Na2SO4 mengandung kadar K20 37.5% dan carnallit KC1. MgCl2. 61120) yang mengandung K20 sebesar 16,9%. Contoh endapan kalium yang terkenal adalah di Stassfurt, Jerman. Tebal endapan berkisar antara 20–60 meter pada kedalaman di sekitar 350 m. Endapan brom dan borat yang berasal dari air laut berjumlah tidak banyak. Kedua endapan ini biasanya berasosiasi dengan mineral kalium. Endapan yang diusahakan terdapat di Strassfurt, Jerman.

4.6.2. Endapan danau

        Di daerah kering dan panas, danau-danau yang tidak mempunyai saluran pembuang air biasanya merupakan danau garam. Susunan air danau biasanya tidak sama dengan danau sejenis di tempat yang berlainan; karena masing-masing mendapatkan sumber asal larutan yang tidak sama. Great Salt Lake di Utah, USA, mempunyai susunan air danau yang menyerupai air laut dengan kegaraman ? kali kegaraman laut. Di tempat lain seperti di Searless Lake, California, USA, banyak mengandung sulfat dengan sedikit karbonat dan khlorida. Air danau garam dapat dipisahkan menjadi : air danau garam, air danau natrium sulfat dan natrium karbonat, air danau borat, air danau nitrat, dan air danau kalium.                 Endapan danau garam Proses evaporasi yang terjadi sama dengan proses evaporasi air laut. Contoh di Great Salt Lake, pada saat ini mempunyai kadar garam antara 13-27%; kisaran kadar tersebut tergantung dari pada iklim yang berlaku. Pada musim yang lembab, kadar menurun dan sebaliknya bila keadaan musim kering kadar akan naik. Contoh lain adalah danau-danau di Timur Tengah dan di laut mati, juga di Asia Tengah dan Afrika Utara.

        Endapan danau pahit dan danau alkali Ciri khas air danau pahit adalah kandungan natrium sulfatnya yang tinggi. Danau semacam ini banyak dijumpai di daerah kering Amerika dan Asia. Contoh di Rusia adalah Danau Altai dan Danau Domoshakovo.     
        Danau alkali atau danau soda airnya mengandung natrium karbonat dalam jumlah yang lebih besar bila dibandingkan dengan kandungan kalium karbonat dan garam dapurnya. contoh dan au-danau yang termasuk dalam kategori ini adalah Danau di Mesir, Danau soda di Nevada USA, Danau Goodenough di Sas katchewan Kanada. Evaporasi air danau menghasilkan natrium sulfat, natrium karbonat, natrium bikarbonat dan garam dapur. Natrium sulfat sebagai mineral mirabilitit Naz S04. 101120 disebut juga garam Glauber dan thernardit Na2SO4.

    Endapan danau kalium Danau kalium tidak banyak dijumpai, salah satu contoh danau yang penting adalah Searless Lake di California USA yang menghasilkan sulfat-sulfat, karbonat karbonat, garam-garam rangkap tiga, khlorida-khlorida dan silikat borium.

        Endapan danau borat Danau borate relatip tidak banyak. Contoh di California, Nevada USA, Tebet Argentina, Cili dan Bolivia. Air danau mendapatkan borium dari kegiatan gunung berapi dan sumber-sumber panas. Mineral yang dihasilkan adalah borax Na2B4 07.10H20, colemanit Ca, B6 011.5H20, ulexite Na20.2Ca0.5B203. 10H2O dan searlesit Na20.B203. 45102.21120.

        Endapan danau nitrat Danau nitrat umumnya diketemukan di daerah beriklim kering dan panas; tetapi jarang dapat menghasilkan endapan yang mempunyai arti ekonomi. Umumnya terdapat di daerah gunung berapi. Hasil endapannya adalah Natrium nitrat atau soda niter dan berasosiasi dengan senyawa-senyawa borium. Banyak dijumpai di Argentina, Columbia, Bolivia, Afrika Selatan dan di Searles Lake dan Death Valley California.

4.6.3. Endapan berasal dari air tanah

        Penguapan air tanah umum terjadi, tetapi endapan yang terjadi di daerah lembah dilarutkan kembali dan terbawa oleh air hujan; tetapi di daerah beriklim kering endapan dapat terkumpul selama iklimnya tetap kering. Kandungan larutan garam yang terdapat di dalam air tanah serupa dengan yang terdapat dalam air danau ataupun air laut, perbedaannya hanya kadarnya lebih kecil atau rendah. Yang selalu terdapat adalah larutan-larutan kalsium karbonat, magnesium, natrium, kalium, besi, mangan, silika dan fosfor. Kadang. kadang juga mengandung borium dan jodium.

        Pengendapan dapat berjalan baik bila penguapan itu terjadi dekat permukaan atau di gua-gua, clasar lembah atau di lereng-lereng.

        Endapan yang terbesar dari hasil penguapan ini adalah di gurun Atacama, Tarapaca, dan Artofagasta di negara Cili. Endapan terkenal dengan nama Nitrat Chili . Hasil yang di dapat adalah garam-garam nitrat, jodium dan sedikit borium, kalsium karbonat, natrium karbonat, natrium sulfat dan natrium karbonat. Caliche" adalah kalsium karbonat yang diendapkan oleh air tanah di dekat permukaan tanah,

4.6.4. Endapan mata air panas

        Endapan di sekitar mata air panas tidak sepenuhnya hasil dari proses evaporasi saja tetapi kegiatan mikro-organisme juga turut berperan. Endapanendapan yang dihasilkannya antara lain adalah kalsium karbonat dalam bentuk tufa, traverite, atau sinter gampingan; kemudian silika sebagai geyserite atau sinter silika dan oksida mangan dalam bentuk mineral wad.

        Contoh di Travertine, Italia yang menghasilkan travertine; geyser di Yellowstone Parka yang mengendapkan geyserit, sedikit pirit dan sedikit arsen. Di New Zealand malahan menghasilkan air raksa.

4.7. Konsentrasi Mekanik Dan Residuil

        Endapan bahan galian yang dihasilkan oleh proses konsentrasi mekanik dan residuil itu disebabkan oleh pengaruh pelapukan. Pelapukan merupakan proses disintegrasi, kimia dan biokimia. Pada daerah beriklim kering, proses disintegrasi atau penghancuran secara mekanik lebih dominan sebaliknya di daerah tropik dan subtropik proses dekomposisi atau proses penghancuran secara kimia lebih dominan. Peranan proses biokimia menonjol pada lingkungan dimana banyak kehidupan.

        Batuan dan mineral-mineral yang tidak dapat bertahan dalam lingkungan pelapukan akan mengalami dekomposisi; bagian-bagian yang tidak larut akan bertinggal dan bagian yang larut akan terbawa pergi bersama air. Larutan akan mengalami pengendapan di tempat lain bila keadaan mengizinkan; dan terbentuk mineral baru yang dapat mempunyai arti sebagai bahan galian. Mineral-mineral yang resisten seperti kwarsa, emas, intan, platina akan terpisah dari batuan dan kemudian mengalami pengkayaan residuil di permukaan tanah atau di dasar perairan dengan melalui proses konsentrasi mekanis menjadi deposit "placer”. Pengaruh pelapukan ini mencapai kedalaman satu meter atau kurang, dan dalam keadaan istimewa dapat mencapai kedalaman lebih dari pada beberapa ratus meter.

4.7.1. Endapan konsentrasi mekanik

        Proses yang menyebabkan terjadinya endapan ini adalah proses alami yaitu berupa pemisahan gravitatip antara mineral berat dan mineral ringan oleh air yang mengalir atau oleh angin. Bagian mineral berat akan terpisah oleh cara ini dan dapat merupakan endapan "placer”. Untuk dapat terkumpulnya mineral yang berharga perlu memiliki tiga macam sifat fisik, yaitu: 
        a. Mempunyai berat jenis yang tinggi

        b. Resisten atau tahan terhadap pelapukan kimia

        c. Keras dan tahan terhadap tumbukan, gesekan, selama di angkut. Beberapa mineral placer yang                 mempunyai sifat-sifat tersebut antara lain adalah : emas, perak, platina, kasiterit, magnetit,                     khromit, rutile, tembaga, zirkon, monazit, batupermata, fosfat, korundum.

            Mekanisme proses konsentrasi tergantung kepada faktor-faktor seperti berat jenis, ukuran dan bentuk fragmen, untuk itu perlu dipahami adanya tiga macam prinsip yaitu :

            Pertama, di dalam air dua mineral yang berukuran sama, mineral yang berberat jenis lebih tinggi akan diendapkan lebih cepat dari pada yang berberat jenis rendah.

            Kedua, kecepatan pengendapan mineral dipengaruhi oleh permukaan jenis mineral tersebut. Dengan perkataan lain umpamanya dua mineral bentuk dan beratnya sama, tetapi ukurannya tidak sama. Di dalam air, mineral yang mempunyai ukuran dan luas permukaan lebih kecil berarti mempunyai nilai geser terhadap air lebih kecil, dan akan mengendap lebih cepat dari pada yang berukuran lebih besar.

            Ketiga, bentuk butiran mempengaruhi pengendapannya. Butiran yang berbentuk bulat, permukaan jenisnya lebih kecil bila dibandingkan dengan butiran yang pipih. Butiran pipih akan mengendap lebih cepat walaupun mempunyai berat yang sama.

            Kecepatan arus di lain pihak akan berpengaruh juga terhadap pengendapan; bila kecepatan arus lipat dua, daya angkut akan berlipat empat kali. Untuk mendapatkan konsentrasi mineral plaser kecepatan arus harus sesuai; bila terlalu lemah pemisahan antara mineral berat dan mineral ringan tidak baik, dan bila terlalu cepat mineral berat akan terbawa arus. Arus sungai akan mengalami perlambatan bila ada halangan, misalnya dasar sungai menjadi landai, sungai bermeander, sungai mendadak melebar.

            Di samping hal-hal tersebut di atas faktor waktu, sumber asal mineral ”placer”, dan relief topografi ikut menentukan terjadinya pengendapan dan pengumpulan mineral di suatu tempat. 2

            "Placer” secara umum dapat dibagi menjadi 'placer” eluvial dimana konsentrasi mineral terjadi pada lereng-lereng; ”placer" alluvial atau "placer” sungai merupakan konsentrasi pada dasar dan lembah sungai; ”placer” pantai dimana konsentrasi terdapat di pantai dan "placer” angin yang konsentrasinya disebabkan oleh angin.

            Deposit eluvial yang penting adalah emas dan timah dan yang kurang penting adalah mangan, kyanit, barit dan batu permata. Contoh ”placer” eluvial emas terdapat di Australia, California, Montana, Sieria Leone, Tanganyika, Kenya dan British Cuiana. Contoh ”placer” timah ialah Bangka dan Biliton, Malaysia, Kongo, Nigeria.

            Deposit sungai merupakan deposit "placer" yang paling penting, karena banyak menghasilkan emas, timah, platina, dan batupermata (intan). Gambar 2-10 memberikan gambaran mengenai endapan 'Placer”. Contoh deposit "placer" di Fairbanks (Alaska), Bangka dan Biliton (Indonesia) California (USA), British Columbia (Kanada). Pada umumnya endapan berlangsung dengan baik bila sungai 
telah mencapai keseimbangan antara erosi, pengangkutan dan pengendapan; di samping itu gradien dasar sungai di sekitar 10 m per 1500 m, yang berarti menurun 10 m pada jarak 1500 m.
        dasar sungai Deposit pantai terbentuk di sepanjang pantai laut karena kegiatan gelombang dan arus laut. Deposit yang termasuk kategori ini antara lain adalah emas di Nome (Alaska); ilmenit, rutil dan monazit di Travacore dan Quilon (India); pasir besi (Cilacap); New Zealand, Brasilia; Sirkon di Brasilia; intan di Namaqualand (Afrika Selatan).



                Deposit angin atau deposit colis hanya terdapat di daerah kering di mana angin merupakan             medium utama pengangkut debu dan pasir. Contoh di daerah gurun Australia dan di El Raco                 (Mexico) yang menghasilkan placer emas.

4.7.2. Endapan residual

        Proses konsentrasi residual menyebabkan terkonsentrasinya mineral bahan galian di tempat. Bagian-bagian lain dari bahan induknya terangkut pergi akibat proses pelapukan kimia. Beberapa persaratan untuk dapat terjadinya endapan residual adalah terdapatnya sumber mineral di dalam bahan induknya, keadaan iklim yang menguntungkan terjadinya pelapukan kimia; keadaan medan yang relatif datar. Beberapa macam bahan galian residuil yang penting adalah einas, mangan, bauxit, lempung, nikel, fosſat, kyanit, barit, oker, timah.

        Endapan residual besi
        Sebagai sumber utama bagi terbentuknya endapan ini adalah bahan induk yang mengandung besi seperti siderit, batugamping, chart besian, batu beku basa. Contoh endapan bijih besi yang berasal dari siderit adalah endapan Bilbao (Spanyol) yang boleh dikatakan bersih dari kotoran; endapan bijih berasal dari batugamping di Appalachian Valley (USA) yang dikenal dengan "Tennessee River brown ore”. Contoh endapan bijih besi yang berasal dari chert besian terdapat di daerah Lake Superior yang paling terkenal, diantaranya di Mesabi (USA) terdiri dari mineral hematit yang berasal dari pelapukan taconit (chert besian) dan greenalit; dan di Birmingham (USA) dikenal dengan nama "Clinton Iron-ore” yang tersingkap perlapisau batuan sedimen sampai setebal 10 m dan meluas hingga 30 km panjangnya, terdiri dari hematit. Endapan yang berasal dari sisa hasil pelapukan yang banyak dijumpai di daerah beriklim tropik dan subtropik adalah tanah laterit. Sebagai bahan galian walaupun kadar besinya tinggi, tetapi kandungan kotoran seperti alumina cukup besar sehingga menyulitkan pemisahannya. Endapan semacam ini banyak dijumpai di Indonesia, India, Kuba.

        Endapan mangan residual
            Kelakuan mangan dalam beberapa hal mengikuti siſat besi dalam proses pengendapannya, hanya dalam skala yang lebih kecil untuk mendapatkan endapan yang banyak mengandung mangan diperlukan keadaan yang khusus. Sumber bahan induk yang menghasilkan mangan sama dengan yang menghasilkan besi dan terkandung kandungan mineral-mineral mafik di dalam batuan beku, terutama yang menjurus ke basa. Batuan induk lainnya yang merupakan sumber Mn adalah batu gamping, dolomit, sekis, Deposit mangan yang utama berasal dari pelapukan sekis yang banyak mengandung spessartit, rhodochrosit, rhodonit, dan tephroit. Pelapukan kimia melarutkan silika, magnesium, kalsium dan lainnya dengan meninggalkan residu atau sisa berupa oksida mangan. Contoh banyak terdapat di daerah tropik dan subtropik seperti di India, Gold Coast, Brasilia, Mesir, Marocco, dan pulau Jawa.

Endapan bauxit
        Bauxit ini terbentuk sebagai endapan residual di dekat permukaan atau di permukaan tanah pada daerah beriklim tropik dan subtropik. Karena kegiatan Rongga pori Rongga pori Rongga pori Feldspat2 dan feldspatolda2 Feldspat2 Feldspat 2:::: Kaolin, dll. Bauxit Hidrat silikat alumina, kaolin, halloysit, dll. Mineral2 kelam Kaolin, dll. A. Syen it belum lapuk B. Sebagian syenit C. Kaolinisasi D. Bauxit mengalami kao- syenit selesai linisasi


        proses pelapukan kimia unsur-unsur kalium, natrium, kalsium, magnesium dan sedikit besi akan tercuci sedang yang tertinggal adalah besi, titanium dan alumina. Proses pembentukan bauxit dari proses pelapukan mineral lain terdapat dalam gambar 2-11. Faktor kondisi yang diperlukan bagi terbentuknya endapan bauxit antara lain adalah iklim yang sesuai, yaitu tropik atau subtropik dan lembab, batuan relatip kaya akan alumina; cukup tersedia pereaksi yang mampu melarutkan silika; keadaan permukaan yang bersifat meluluskan air hujan secara perlahanlahan; cukup sarana pengangkutan larutan hasil pelapukan yang tidak dikehendaki; waktu; dan keadaan medan yang landai.

        Dari skema gambar 2-11 dapat dilihat bahwa kaolin dapat berubah pula menjadi mineral bauxit. Contoh endapan bauxit residual terdapat di sekitar kota Bauxite, Arkansas (USA) yang berasal dari sienit neſelin; British Guiana Suriname, Perancis, Dalmatia, Yugoslavia, Hongaria, Indonesia. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian ialah bahwa deposit yang mempunyai arti ekonomi terbentuk pada akhir mesozoikum atau tersier; berasosiasi dengan lempung; dan tempat pengumpulan deposit residual ini menunjukkan kerataan permukaan yang menunjukkan baik bekas permukaan erosi ataukah bekas "peneplain” tua.

        Endapan lempung

            Proses pembentukan maupun asal bahan induknya sama dengan bauxit. Lempung residuil ini oleh Ries (Bateman, 1960) diklasifisir menjadi jenis kaolin yang berwarna putih, dan warna putih ini tetap dipertahankan sesudah dibakar; dan ada jenis lempung yang menjadi merah sesudah dibakar. Penyebaran lempung residuil lebih terbatas daripada penyebaran lempung sedimenter. Contoh dijumpai di daerah-daerah bagian selatan Amerika Utara, Cina, Inggris, Perancis, Jerman, Cekoslovakia.

        Endapan nikel

            Batuan beku ultra basa diketahui mengandung nikel dalam jumlah sedikit, tetapi dalam lingkungan tropik dan subtropik batuan tersebut akan lapuk dan salah satu hasil pelapukannya adalah senyawa nikel dan magnesium dan dikenal sebagai mineral garniert. Endapan ini diketemukan di New Caledonia, Indonesia, Kuba, Brasilia dan Venezuela. Terutama di Indonesia bagian timur di Pomalla dan Soroako yang termasuk Sulawesi Tenggara sudah mulai diusahakan sejak beberapa tahun yang lalu. 

4.8. Oksidasi Dan Pengkayaan Supergen

        Bila suatu endapan bahan galian tersingkap oleh kegiatan erosi segera akan terkena pengaruh pelapukan. Terutama endapan yang mengandung mineral sulfida; mineral tersebut akan mengalami oksidasi dan pelarutan oleh air hujan.
        Larutan yang berasal dari mineral banyak mengandung asam sulfat H2SO4 dan kemudian bertindak sebagai pelarut aktip terhadap mineral-mineral lainnya. Dengan kata lain bijih akan teroksidir dan banyak bagian mineral bijih tersebut yang tercuci bersama air yang merembes ke bawah, yaitu bersama dengan air perkolasi hingga mencapai air tanah atau sampai pada batas kedalaman yang tidak dapat dijangkau oleh pengaruh oksidasi,
        Bagian yang teroksidir disebut sebagai zona oksidasi. Larutan yang merembes ke bawah bila telah mencapai air tanah akan mengendapkan kandungan logamnya sebagai mineral sulfida sekunder dan daerah ini disebut sebagai daerah pengkayaan sulfida supergen atau daerah pendayaan sekunder. Bagian deposit bijih di sebelah bawah yang tidak terkena pengaruh oksidasi dan masih utuh disebut sebagai zona primer atau zona hipogen Secara skematik tergambar dalam gambar 2-13.
        Susunan zonal tersebut adalah karakteristik bagi endapan mineral bijih yang banyak mengalami proses pelapukan dalam jangka waktu yang lama. Proses peng. kayaan supergen ini banyak menghasilkan endapan bijih tembaga dalam jumlah yang cukup banyak untuk dapat ditambang.
        Proses yang terjadi dapat dipisahkan menjadi tiga tahapan, yaitu mulai dari perinukaan tanah : Pertama, terjadinya oksidasi dan pelapukan di zona oksidasi; kedua terjadinya pengendapan di zona oksidasi dan ketiga, terbentuknya pengendapan sulfida supergen.

4.8.1. Oksidasi dan pelarutan di zona oksidasi

        Pengaruh oksidasi terhadap mineral adalah jelas, yaitu mineral menjadi lapuk dan bagian logam mineral tercuci ke bawah bersaina air pelarutnya atau membentuk senyawa baru. Tekstur menjadi berantakan, bijih sisa menjadi be. rongga-rongga. Limonit yang terbentuk memberikan warna karat besi pada singkapan yang dikenal dengan nama "gossan”. Semua proses ini disebabkan oleh air yang mengandung oksigen dan karbon dioksida yang bersifat oksidatip. Bila air mengandung khlorida, air ini akan bereaksi dengan mineral tertentu dan menghasilkan cairan pelarut yang kuat seperti asam sulfat dan feri-sulfat. Asam sulfat yang terbentuk kemudian bereaksi dengan garam dan membentuk asam khlorida yang kemudian bereaksi dengan besi dan membentuk senyawa baru yang oksidatip yaitu ſeri khlorida,

        Perubahan kimia yang terdapat di zona oksidasi ini adalah pertama terjadinya oksidasi, pelarutan, pengambilan dan penghancuran mineral yang berharga; yang kedua, terjadi pengubahan mineral logam tersebut ke dalam bentuk senyawa yang teroksidir.

        Mineral pirit sebagai mineral sulfida yang umum dijumpai, dapat dikatakan sebagai sumber dari adanya perubahan-perubahan tersebut. Proses kimia dapat digambarkan dalam bentuk reaksi-reaksi kimia sebagai berikut.



            Pada umumnya mineral-mineral sulfida lainnya akan bereaksi dengan feri sul fat dan membentuk sulfat-sulfat logam seperti CuSO4, ZnSO4,PbSO4, Ag2 SO4. Sulfat-sulfat logam tersebut kesemuanya mudah larut dan akan ikut merembes ke bawah untuk kemudian diendapkan sebagai sulfida sekunder. Mengenai kebiasaan oksidasi dari senyawa logam yang umum terdapat dalam Tabel XII, "Gossan” atau batu tudung ("Caprock”) adalah penting bagi pekerjaan eksplorasi mineral yaitu dengan melihat warnanya dan keterangan mengenai logam-logam lain yang terdapat, seperti contoh yang terdapat pada Tabel XIII.
            

        Dari pengalaman menunjukkan bahwa warna tudung itu coklat, merah tua, menunjukkan adanya pirit; coklat tua dan coklat kekuningan menunjukkan menunjukkan adanya campuran goethit dan hematit yang karakteristik bagi banyak goethit yang menunjukkan adanya kalkopirit; jingga oker hingga coklat mineral bornit; merah tua hingga merah hati menunjukkan banyak hematit yang karakteristik bagi kalkosit.
        Kesimpulan yang diambil dari adanya warna "gossan” saja biasanya tidak cukup dan masih perlu digabung dengan struktur limonit yang terdapat. Limonit residual merupakan hasil proses oksidasi sulfida-sulfida, biasanya mempunyai struktur khas berongga-rongga seperti rumah lebah. Pola susunan rongga tersebut dinamakan "boxwork”. Tipe "boxwork” terdapat pada Tabel XIV dan gambar 2-14.


        Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian ialah mengenai kedalaman pengaruh oksidasi. Beberapa faktor yang mempengaruhinya adalah pertamatama keadaan air tanah; kedua, pengaruh iklim; ketiga, pengaruh waktu dan lainnya.

        Air tanah biasanya tidak mengandung oksigen bebas, sehingga oksidasi praktis tidak terjadi. Pada umumnya permukaan air tanah dianggap sebagai batas pengaruh oksidasi. Karena oksidasi tidak ada, lingkungan air tanah malahan bersifat mereduksi.

        Iklim yang mempercepat oksidasi adalah iklim panas dan lembab. Di daerah dingin kegiatan oksidasi akan terhambat.

        Faktor waktu menentukan tuntas tidaknya proses oksidasi, dengan perkataan lain proses oksidasi akan lebih sempurna bila jangka waktunya lebih lama. Faktor lainnya seperti erosi berpengaruh terhadap permukaan air tanah yang akan menjadi lebih dangkal, sehingga zona oksidasi menjadi lebih sempit dan malahan dapat hilang sama sekali; kemudian mengenai batuan di sekeliling jebakan bijih, bila mempunyai struktur yang tidak masif dan sarang akan membantu jalannya oksidasi.


4.8.2. Pengendapan bijih di zona oksidasi

        Mineral-mineral yang mempunyai nilai ekonomi sering diendapkan di bagian bawah zona oksidasi dan pada pokoknya terdiri dari unsur-unsur logam tembaga, seng, timbal, perak, vanadium, uranium, dalam bentuk senyawa-senyawa karbonat, silikat, oksida, ataupun dalam bentuk endapan logam murni.

        Cara pengendapannya dapat diterangkan dengan berbagai proses yang dapat berdiri sendiri ataupun bergabung. Beberapa proses yang dimaksudkan adalah proses penjenuhan cairan yang merembes ke bawah dan kemudian mengalami evaporasi seperti yang dijumpai di daerah pertambangan Chuquicamata (Chili) dan merupakan tambang tembaga terbesar di dunia. Mineral tembaga yang terbentuk dengan cara ini adalah Antlerit, brochantit, kalkantit, dan krohnkit. Kemudian proses oksidasi dan hidrasi yang menghasilkan oksida-oksida dan oksida hidrat besi, mangan, tembaga. Proses terjadinya reaksi antar larutan itu sendiri akan menghasilkan kurprit dan tenorit, unsur tembaga, unsur perak. Selanjutnya ada kemungkinan reaksi antara cairan dengan mineral gang ataupun dengan dinding



        jebakan bijih yang terdiri dari batugamping dan akan menghasilkan mineralmineral malakit, azurit; smithsonit; krisokola; hemimorfit.

        Mineral-mineral yang khas terdapat di zona ini contoh-contohnya tertera dalam Tabel IV. ketentuan umum bahwa mineral yang dihadapi adalah mineral yang teroksidasi adalah keadaan bijih akan berubah sesuai dengan kedalaman; perubahan tenor dengan kedalaman; dan tidak mencapai ketebalan yang berarti,

4.8.3. Pengkayaan sulfida supergen

            Logam-logam yang terlarut dalam air yang merembes ke bawah pada xona oksidasi tidak semuanya terperangkap dan diendapkan di bagian bawah zona oksidasi ini dan masih terus ke bawah hingga mencapai daerah yang sedikit oksielasinya dan pada umumnya di pertemuan dengan air tanah mereka baru diendapkan kembali sebagai sulfida-sulfida sekunder. Yang terjadi sesungguhnya adalah logam-logam trambil dari bagian atas dan kemudian diendapkan di bagian bawah, dengan perkataan lain bagian bawah mengalami pengkayaan. Zona ini disebut sebagai zona-sulfida-supergen atau zona yang belum lapuk dan disebut sebagai zona hipogin.

            Erosi yang berlangsung menyebabkan zone oksidasi menjadi lebih dalam, sehingga pada suatu saat dapat mencapai zona sulfida supergen yang akan teroksidir juga. Hal ini mengakibatkan logam yang berharga akan makin terkumpul kebagian bawah lagi bersama air yang merembes, sehingga pengkayaan juga akan makin menjadi dalam. Dengan cara demikian bijih primer akan dapat diperkaya sampai sepuluh kalinya. Bijih yang kaya akan bertambah diperkaya lagi, dan seterusnya mineral yang tadinya kadar logamnya sangat sedikit malahan menjadi naik kadar logamnya; dan protore yaitu mineral primer yang tidak bernilai lama kelamaan juga mencapai kadar logam yang dikehendaki.

            Persaratan bagi terjadinya pengkayaan supergen antara lain adalah pertama, dengan adanya proses oksidlasi, memungkinkan terjadinya pengkayaan logam di bagian bawah; kedua, adanya cukup mineral primer yang dapat menghasilkan larutan-larutan yang berdaya melarut seperti mineral sulfida besi, pirit; ketiga, adanya daya meluluskan larutan yang terbentuk itu kebawah melalui endapan bijih; keempat, tidak terjadinya pengendapan di zona oksidasi yang menghambat perembesan air ke bawah; kelima, adanya zona bebas oksigen yang merupakan pengendapan sulfida sekunder, dalam hal ini zona terletak di bawah muka air tanah; dan ke enam, adanya presipitan di zona pengendapan ini seperti arsenida-arsenida, sulfida-sulfida, dan pengendapan hanya dimungkinkan dengan cara penggantian.

        Khusus mengenai persaratan ke enam, dimana suatu larutan sulfida logam akan dapat mengendap sebagai sulfida sekunder bila ada sulfida lainnya, oleh Schurmann (Parks 1964) diterangkan dengan seri Schurman seperti tertera alam Tabel XVI vel berikut.

        Sebagai contoh sulfida tembaga yang diendapkan berasal dari larutan sulfat tembaga yang mengganti galenit, sfalerit, dan pirit. Ketiga mineral terakhir ini dalam seri Schurman terletak di bawah tembaga. Jadi suatu logam dalam larutan akan diendapkan sebagai sulfida karena adanya sulfida logam lain yang terletak di bawahnya di dalam seri Schurman. Sebagai contoh pada tambang tembaga Bingham, Utah, USA; endapan tembaga yang terdiri dari mineral kalkosit dan kovelit terbukti dapat mengganti bornit, tetraedrit, kalkopirit, energit, galenit, sfalerit, pyrrhotit, pirit, dan tenantit. Di sini kalkosit merupakan sulfida supergen yang umum, tetapi setempat-setempat kovelit lebih dominan; jadi ada suatu kecenderungan bahwa kovelit yang merupakan sulfida tembaga diendapkan bila perbandingan antara feri terhadap fero relatip tinggi. Kalkosit diendapkan bila perbandingan besi menunjukkan sebaliknya, jadi kalkosit diganti kovelit supergen dan kovelit hipogen diganti tempatnya oleh kalkosit supergen.

Untuk mendapatkan gambaran umum mengenai mineral-mineral bijih yang teroksidir, hipogen dan supergen terdapat pada Tabel XVII sebagai berikut.

4.9. Akibat Metamorfisme

        Metamorfosa menyebabkan mineral-mineral yang terkumpul berubah dan membentuk endapan mineral-mineral baru. Faktor-faktor utama yang menyebabkan metamorfisme adalah perubahan suhu, tekanan dan pengaruh air. Mineral non logam yang bernilai sebagai endapan bahan galian dibentuk dari batuan dengan cara rekristalisasi dan rekombinasi mineral-mineral pembentuk batuan,

            Berbeda dengan batuan yang mengalami metamorfosa, dimana struktur, tekstur serta komposisi mineralnya akan berubah; pada endapan bahan galian tidak demikian halnya; hanyalah teksturnya saja yang mengalami perubahan. Contoh pada mineral-mineral galenit di Coeur d'Alene, Idaho yang memperlihatkan struktur foliasi. Demikian pula pada kalkopirit, bornit, kovelit dan stibnit, sehingga struktur dan tekstur semula menjadi kabur.

            Endapan bahan galihan yang terbentuk dengan cara proses metamorfisme adalah: asbes, grafit, talk, batusabun, andalusit-sillimanit-kyanit, dumortierit, garnet dan kemungkinan beberapa macam amril ("emery').

4.9.1.Endapan asbes

        Mengenai terbentuknya asbes hingga kini orang belum dapat mem berikan keterangan yang pasti. Para ahli hanya sependapat bahwa asbes adalah jenis serpentin seratan hasil proses metamorfosa dari batuan ultra basa seperti dunit. Proses yang dikenal dalam pembentukan serpentin ini adalah proses serpentinis asi. Pada proses ini ada penambahan air sehingga melibatkan penambahan volume bila dibanding dengan batuan yang tidak mengalami serpentinisasi. Serpentin mengganti olivin dengan penggantian volume-per-volume. Ke. mungkinan perubahan ini menyebabkan adanya sedikit susunan volume hingga terjadi retakan-retakan yang terisi kemudian oleh asbes.

        Mineral asbes ada dua kelompok, yaitu pertama asbes serpentin, terdiri dari mineral krisotil dan pikrolit dan merupakan silikat hidrat magnesium; kedua, adalah asbes amfibol terdiri dari mineral-mineral amosit, krokidolit, tremolit, aktinolit, dan antofilit; yang merupakan silikat kalsium, magnesium, besi, natrium dan aluminium. Kelompok pertama dihasilkan dari batuan ultra basa dan kelompok kedua berasosiasi dengan batuan dolerit, batubesi, sekis.

4.9.2. Grafit

        Di alam dijumpai dalam dua jenis yaitu jenis kristalin terdiri dari sisiksisik tipis, dan jenis amorf yang non-kristalin. Grafit dihasilkan oleh proses metamorfik baik kontak maupun regional. Dijumpai di batupualam, genes, sekis, kwarsit, dan juga dipegnatit, urat-urat dan beberapa batuan beku. Asosiasi mineralnya adalah kwarsa, rutil, khlorit, titanit dan silimanit. Diduga bahwa asal grafit dari bahan organik yang banyak dijumpai di dalam batuan sedimen non marin yang mengalami metamorfisme regional atau dari batu gamping hitam yang kaya akan bahan organik juga.

4.9.3. Talk dan batu sabun

        Talk adalah silikat magnesium hidrat dan merupakan sisik-sisik sedang. kan steatit adalah jenis lain yang masih, dan yang seratan dinamai agalit. Batu sabun adalah batu yang lunak dan mengandung campuran talk, khlorit, serpentin, megnesit, antigorit dan enstatit. Pirofilit kadang-kadang dimasukkan dalam batu sabun.

        Baik talk maupun batusabun adalah hasil akibat proses metamorfisme terhadap batu ultra basa dan batugamping dolomit. Yang bernilai berasal dari batugamping dolomitan dan biasanya berasosiasi dengan mineral-mineral metamorfik seperti aktinolit dan tremolit; dijumpai di alam biasanya dalam volume yang lebih besar bila dibanding dengan yang berasal dari batu ultra basa. Talk juga meru. pakan hasil alterasi mineral kaya akan magnesium yang terdapat di dalam batuan, alterasi mana berasal dari proses metamorfisme hidrotermal dan mungkin dibantu pula oleh proses dinamo metamorfisme,


4.9.4.  Andalusit, sillimanit, kyanit, dumortierit

        Keempat mineral ini masuk dalam kelompok Sillimanit, dan ineru. pakan mineral-mineral yang talian suhu tinggi.

        Andalusit, dijumpai dalam batu kristalin lempungan dan juga di dalam pegmatit. Asosiasi mineralnya adalah turmalin, garnet, korundum, topaz, kwarva, dan mika. Contoh di White Mountain, California andalusit di dalam kwarsa yang berada di dalam batuan sekis serisit. Diduga dihasilkan oleh proses pnematolitik oleh adanya intrusi didekatnya, dari batuan yang banyak mengandung alumina baik batu sedimen maupun batu volkanik.

        Kyanit, dijumpai di dalam batuan sekis atau gneis dan kadang-kadang sebagai lensa-tensa pada pegmatit terdiri dari kelompokan mineral tersebut dengan kwarsa. Diduga berasal dari kegiatan proses dinamotermal dan mungkin diikuti dengan emanasi magmatik.

        Sillimanit, dijumpai dalam sekis sillimanit sebagai akibat dari kegiatan proses metamorfisme ber suhu tinggi. Berasosiasi dengan kerundum. Contoh terdapat di Khasi Hills, Assam, India.

        Dumortierit, merupakan hasil alterasi dari andalusit dan dijumpai di dalam sekis serisit. Pembentukan dumortierit dianggap secara bertahap yang dimulai dari hasil proses pnemotolitik yang menghasilkan andalusit dan kemudian proses metamorfisme hidrotermal yang merubahnya menjadi dumortierit. Contoh endapan terdapat di Oreana, Nevada, USA.

5. RINGKASAN ASAL MULA ENDAPAN MINERAL

        Magma adalah sumber permulaan dari adanya semua endapan mineral bahan galian. Selama magma mulai menjadi beku dan dingin yang disertai oleh diſerensiasi magma terbentuklah dua komponen yaitu pada komponen padat terdiri dari mineral-mineral pembentuk batuan yang tersusun dari senyawasenyawa silikat kalium, natrium, kalsium, magnesium, alumina, besi. Komponen cair yang mengandung unsur-unsur kimia pembentuk endapan bahan galian kemudian akan dapat membentuk endapan mineral metasomatisme-kontak. Menjelang akhir pembekuan, cairan magma dapat membentuk endapan pegmatit. Cairan yang masih tersisa terdiri dari cairan dan gas-gas inilah yang akan memben. tuk hampir semua endapan mineral epigenetik. Gas-gas pada pendinginan lebih lanjut akan berkondensasi dan bercampur dengan air tanah dan air lainnya menjadi larutan hidrotermal yang kemudian akan menghasilkan endapan mineral hidrotermal.

        Endapan mineral beserta batuan yang telah terbentuk langsung dari kegiatan magma bila tersingkap di permukaan bumi akan menghadapi proses pelapukan. Proses pelapukan ini akan menghasilkan dua macam endapan mineral; pertama, endapan karena proses kimia, dan kedua, endapan karena proses fisika. Hasil endapan mineral bahan galian baik yang berasal dari proses pembekuan maupun dari proses pelapukan; kemudian akan dapat berubah menjadi endapan mineral baru karena proses metamorfosa.

literatur : Buku Ilmu Bahan Galian, Departement Pendidikan Dan Kebudayaan 1979 (Stembayo Archieve, Page 9-58)