Yusup Ari Wibowo

Foto saya
Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Mining Software

Hasil penelusuran

Rabu, 13 Oktober 2021

Ilmu Bahan Galian (Pendahuluan)

Pendahuluan
1. SEJARAH PERKEMBANGAN
    Penggunaan bahan galian dimulai sejak orang mengetahui manfaatnya baik sebagai ornamen, alat kecantikan, alat berburu ataupun sebagai senjata.
    Manusia paleolitik yang hidup antara tahun 100.000 hingga 7.000 Sebelum Masehi, menurut Ball (Bateman, 1960) telah mempergunakan 13 macam mineral yaitu: Kalsedon, kwarsa, serpentin, obsidian, pirit, jaspis, steatit, amber, jadeit, kalsit, ametis, chert, dan fluorit. Di samping itu mereka memakai limonit (oker) sebagai zat pewarna. Mineral logam belum mereka kenal.

    Barulah manusia neolitik yang lebih maju dan berkembang mengenal mineral logam seperti emas dan tembaga. Di samping itu penggunaan mineral non logam bertambah seperti mineral lempung, nefrit, sillimanit dan turquois (pirus). Bangsa Mesir adalah yang pertama-tama maju dalam hal memanfaatkan mineral terutama mineral adi yang dipergunakan sebagai perhiasan. Pada mulanya hanya warna yang menentukan nilai, seperti biru dari lapis lazuli, merah dari carnelia, hijau dari malakhit, kuning dari jaspis, dan biru dari turquois. Baru kemudian diperkenalkan beril, garnet, agat, onyx, jade, azurit, amber dan zamrut. 

    Mineral emas diduga lebih dahulu dikenal dari pada tambaga. Bangsa Yunanilah yang mulai dengan menambang emas dan perak yang berasal dari urat-urat, kurang lebih mulai 2500 hingga 356 tahun Sebelum Masehi.

    Bangsa-bangsa lain seperti bangsa Babilonia, Assiria, Parsi, India dan Cina dapat disejajarkan dengan bangsa Mesir dalam penggunaan mineral-mineral tersebut di atas.

2. ILMU BAHAN GALIAN

    Pada permulaannya seperti Herodotus dari Yunani, kurang lebih 450 tahun Sebelum Masehi, hanya memberi pemerian mengenai dijumpainya emas di dalam urat-urat kwarsa. Kemudian satu abad kemudian buku mengenai mineral diterbitkan oleh Theopratus, seorang murid Aristoteles, dengan judul "The Book of Stones” yang memberikan gambaran mengenai 16 mineral dan digolongkannya menjadi logam, batu dan tanah. Sepuluh abad Sesudah Masehi filsuf Arab bernama Abu Sina memperluas penggolongan mineral menjadi: Batu, mineral sulfida, logam dan garam.

    Teori mengenai genesa barulah dirumuskan oleh Georgius Agricola (14941555) menurut Crook (Bateman, 1960) dalam bukunya 'De Re Metallica”. Dengan tegas beliau membedakan antara kelompok mineral yang seragam dan kelompok mineral yang tidak seragam atau batuan. Selanjutnya kelompok mineral seragam dibagi lagi menjadi tanah, garam, batu permata, logam dan mineral lainnya. Gambar Agricola dan gambar kegiatan penambangan mineral dalam bukunya terdapat pada gambar 1-1 dan gambar 1-2.
     Gambar 1-1 Georgius Agricola (1494 - 1555) menurut Bateman (1960).

    Perkembangan ilmiah dalam abad berikutnya tidak banyak, baru pada abad ke delapan belas perkembangan menjadi pesat. Pusat pengembangan berada di Jerman, Henkel (1725) menurut Bateman (1960) adalah orang yang memberikan benih bagi pengertian metasomatisme. Pada tahun 1749, Zimmerman memperkuat pemikiran Henkel dan mengatakan bahwa perubahan batuan menjadi jebakan disebabkan karena adanya sirkulasi cairan. Demikian pula Oppel (1749) berpendapat, bahwa retakan timbul sebelum masuknya ciaran yang mendapatkan bijih. Dari bentuk percabangan urat-urat Lehman (1753) berpendapat bahwa cairan mestinya berasal dari perut bumi yang menuju permukaan bumi.

    Kemajuan menjadi lebih nyata pada abad ke sembilan belas. Elie de Beaumont (Bateman, 1960) adalah orang pertama yang menunjukkan bahwa kebanyakan deposit mineral dapat dianggap sebagai salah satu tahap kegiatan magma. Uap air dalam hal ini adalah sangat penting peranannya di dalam kegiatan gunung berapi, dan urat-urat yang mengandung logam terbentuk sebagai akibat pengkerakan pada dinding retakan-retakan oleh larutan air panas yang berasal dari magma. Beliau ini dapat dianggap sebagai bapaknya mengenai paham pembentukan endapan mineral. Von Cotta (1859) merangkum berbagai pendapat yang timbul pada saat itu dan mengumpulkannya dalam bukunya yang membicarakan depositdeposit bijih. Buku ini merupakan buku baku yang digunakan hingga dua dekade.

Gambar 1-2 Kegiatan pencarian bahan galian dan penambangan pada abad pertengahan, menurut Agricola (Bateman, 1960). 

Ada tiga teori yang masing-masing mempunyai penganutnya adalah:

    1. Teori desensionis, mengatakan bahwa endapan bijih berasal dari air permukaan yang meresap dalam bumi yang kemudian di panaskan dan berakibatkan bahwa logam-logam yang terdapat di dalam batuan menjadi larut dan kemudian berpindah ke atas dan mengendapkannya di celah-celah.

    2. Teori asensionis, mengatakan bahwa endapan bijih berasal dari cairan yang ada hubungannya dengan kegiatan magma yang naik ke atas dan kemudian mengendapkan bijih pada dinding celah-celah.

    3. Teori pemisahan, sekresi-lateral, yang mengatakan bahwa bijih terbentuk karena adanya sekresi yang berjalan secara mendatar.

    Pada permulaan abad ke dua puluh banyak ahli yang pendapat-pendapatnya banyak diterima orang antara lain J.C. Kemp (1901), Waldemar Lindgren (1901), J.H.L. Vogt, dan Schneiderhon. Terutama Vogt yang memberikan dasar bagi konsepsi asal deposit mineral yang banyak dianut sekarang, antara lain berpangkal pada proses-proses petrologi dan pembentukan bijih. Beliau mengaku bahwa diferensiasi magma sebagai suatu proses dapat menjurus kepada pembentukan bijih, yaitu: 

                    1. Pemisahan bijih atau injeksi 
                   2. Gas-gas dan uap bermineral
                   3. Air bermineral dengan suhu tinggi

literatur : Buku Ilmu Bahan Galian, Departement Pendidikan Dan Kebudayaan 1979 (Stembayo Archieve)